Rekor Ekonomi Halmahera Timur Tembus 70,67 Persen
Kabupaten Halmahera Timur mencatatkan tren yang bagus, sekaligus sejarah baru dalam pembangunan daerah. Berdasarkan laporan capaian kinerja sepanjang 2025, kabupaten penghasil tambang nikel ini berhasil membukukan pertumbuhan ekonomi 70,67 persen.
Perolehan sangat fantastis ini menunjukkan lompatan raksasa apabila dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi periode 2024 yang hanya berada diangka 3,6 persen.
Lonjakan ekonomi ini juga terlihat jelas dari nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku yang melesat menjadi Rp 8.316,90 miliar, meningkat signifikan dari periodik sebelumnya yang hanya sebesar Rp 5.458,08 miliar.
Bupati Halmahera Timur Ubaid Yakub mengatakan, keberhasilan ini merupakan hasil sinergi dan kerja keras seluruh OPD serta dukungan penuh DPRD.
Selain pertumbuhan ekonomi, sektor Indeks Pembangunan Manusia atau IPM menunjukkan hasil positif meski masih memiliki catatan. IPM Halmahera Timur 2025 tercatat sebesar 71,11 persen naik 0,76 persen dari tahun 2024.
Walaupun tumbuh positif, posisi IPM Halmahera Timur saat ini berada di peringkat ke-5 di Maluku Utara dan masih di bawah rata-rata provinsi sebesar 72,52 persen.
“Sementara angka kemiskinan berhasil ditekan hingga 10,54 persen, turun dari angka 11,91 persen pada 2024. Namun, pemerintah daerah masih memiliki pekerjaan rumah yang besar karena persentase ini masih menjadikannya sebagai tingkat kemiskinan tertinggi di Provinsi Maluku Utara,” kata Ubaid begitu menyampaikan capaian kinerjanya pada Paripurna DPRD Kamis malam, 29 April 2026.
Sisi lain, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) justru naik dari 4,32 persen menjadi 4,85. Kenaikan sebesar 0,42 persen ini diidentifikasi terjadi karena beberapa faktor kunci, yaitu belum optimalnya transformasi struktur ekonomi daerah untuk menciptakan lapangan kerja yang inklusif, dan adanya ketidaksesuaian (mismatch) antara kompetensi tenaga kerja lokal dengan kebutuhan industri saat ini.
“Tingkat pengangguran terbuka ini yang menjadi tantangan kita semua. Artinya, pengangguran terbuka ini lebih kepada soal anak-anak kita yang belum banyak terserap (belum mendapatkan pekerjaan). Mungkin skilnya belum sesuai kebutuhan dan seterusnya. Itu berarti menjadi tantangan kita bagaimana pemda berupaya untuk meningkatkan skilnya sehingga mereka bisa terserap dilapangan kerja sesuai kebutuhan. Disini harus Latihan Kerja lebih di maksimalkan dan lebih diefektifkan,” sambungnya.
Meski begitu, Ubaid memprediksi pertumbuhan ekonomi di 2026 bisa bergerak lebih naik walaupun kondisi fiskal Halmahera Timur disebut tidak amat maksimal imbas efesiensi dan tekanan global.
“Bisa dibayangkan 2026 bisa terjadi kenaikan lagi dengan kondisi fiskal daerah yang agak kurang begitu stabil. Saya berharap muda-mudahan dunia investasi ini tidak terjadi goncangan. Kalau terjadi goncangan pasti pengangguran akan bergerak naik. Kita juga berharap konflik global segera meredah,” jelasnya. **








